Press "Enter" to skip to content

Mola Hidatidosa (Hamil Anggur)

Safwan Sy 0

MOLA HIDATIDOSA

Mola hidatidosa adalah kehamilan dimana setelah terjadi fertilisasi tidak berkembang menjadi embrio, tetapi terjadi proliferasi tropoblast, dan ditemukan villi korialis yang mengalami perubahan degenerasi hidripik dan stroma yang hipovaskuler atau avaskuler, janin biasaya meninggal, akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematous itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur.

Pengertian lain dari mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi korionik menjadi sejumlah kista yang menyerupai anggur yang dipenuhi dengan cairan, embrio mati, mola tumbuh dengan cepat, uterus membesar dan menghasilkan sejumlah besar Human Chorionic Gonadotropin (HCG).

ETIOLOGI

Penyebab mola hidatidosa belum diketahui secara pasti, ada yang menyatakan akibat infeksi, defisiensi makanan dan genetik. Namun yang paling cocok adalah teori Acosta Sisson, yaitu defisiensi protein.

Faktor resiko mola hidatidosa terdapat pada golongan sosio-ekonomi rendah, usia di bawah 20 tahun dan paritasĀ  tinggi.

PATHOGENESIS

Mola hidatidosa terbagi menjadi 2 macam, yaitu:

  1. Mola hidatidosa komplet (kalsik), jika tidak ditemukan janin.
  2. Mola hidatidosa inkomplet (parsial), jika disertai janin atau bagian janin.

Ada beberapa teori yang menerangkan pathogenesis dari penyakit trofoblast, antara lain:

  1. Teori missed abortion
    Mudigah mati pada usia kehamilan 3-5 minggu karena itu terjadi gangguan peredaran darah, sehingga terjadi penimbunan cairan dalam jaringan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuk gelembung-gelembung.
  1. Teori neoplasma dari Park
    Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehingga timbul gelembung.
  1. Teori dari Hertig
    Mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tidak adanya embrio komplet pada minggu ketiga dan kelima. Adanya sirkulasi maternal yang terus-menerus dan tidak adanya fetus menyebabkan trofoblast berproloferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan.
Baca juga :   Abortus ; Keguguran Pada Kehamilan

MANIFESTASI KLINIS

  1. Amenore dan tanda-tanda kehamilan.
  2. Perdarahan pervagina berulang. Darah cenderung berwarna coklat, pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola.
  3. Adanya gejala toksemia pada trimester I-II, hyperemesis gravidarum, gejala tirotoksikosis dan gejala emboli paru.
  4. Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
  5. Tidak terabanya bagian janin palpasi dan tidak terdengarnya Bunyi Jantung Janin (BJJ) sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusar atau lebih.
  6. Preeklamsi atau eklamsi yang terjadi sebelum usia kehamilan 24 minggu.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

  1. Pemeriksaan kadar beta hCG
    Pada mola hidatidosa terdapat peningkatan kadar beta hCG darah atau urin.
  2. Uji Sonde
    Sonde (penduga rahim) dimasukkan perlahan dan hati-hati ke dalam kanalis dan kavum uteri. Bila tidak ada tahanan, sonde diputar setelah ditarik sedikit, bila tetap tidak ada tahanan, kemungkinan mola (cara Acosta Sisson).
  3. Ultrasonografi
    Pada mola hidatidosa akan terlihat badai salju (snow flake pattern) atau sarang tawon dan tidak terlihat janin.
  4. Foto rontgen abdomen
    Tidak terlihat tulang-tulang janin (pada usia kehamilan 3-4 bulan).
  5. Foto thoraks
    Pada mola ada gambaran emboli udara.
  6. Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis.

PENATALAKSANAAN MEDIS

  1. Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidotidosa adalah diagnosa dini akan sangat menguntungkan prognosis.
  2. Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis.
  3. Pada fasilitas kesehatan dimana sumber daya terbatas, dapat dilakukan:
  • Evaluasi klinis dengan fokus pada riwayat haid terakhir dan kehamilan.
  • Perdarahan tidak teratur atau spotting.
  • Pembesaran abnormal uterus.
  • Pelunakan servik dan korpus uteri.
  • Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin.
  • Pastikan tidak ada janin (Bollottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson.
  1. Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera.
  2. Antisipasi komplikasi (krisis tiroid, perdarahan hebat atau perforasi uterus)
  3. Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun.
Baca juga :   Kehamilan Ektopik: Hamil di Luar Kandungan

Pengelolaan mola hidatidosa sebaiknya dilakukan di rumah sakit, adapun langkah-langkah pengelolaannya adalah:

  1. Pengelolaan syok bila terjadi syok.
  2. Transfusi darah bila kadar Hb < 8 gr %.
  3. Kuretase sebaiknya dengan vakum kuretase, kemudian dilanjutkan dengan sendok kuret yang tumpul setelah terjadi pengecilan uterus dan harus dilindungi denga oksitosin 10 IU dalam 500 ml Dextrose 5% apabila sondase uterus > 12 cm.
  4. Pasca kuretase diberikan ergometrin tablet 3×1 tablet/hari.
  5. Adanya penyulit preeklamsi dikelola sesuai dengan protokol preeklamsi.
  6. Adanya penyulit tirotoksikosis dikelola dengan konsultasi internis.
  7. Pengamatan lanjut dilakukan untuk kemungkinan keganasan pasca mola hidatidosa selama 1-2 tahun dengan jadwal sebagai berikut:
  • 1 x 1 minggu pertama selama 1 bulan (4 kali).
  • 1 x 2 minggu selama 2 bulan (4 kali).
  • 1 x 1 bulan selama 4 bulan (4 kali).
  • 1 x 3 bulan selama 1 tahun (4 kali), dilakukan sampai 2 kali pemeriksaan berturut-turut negatif.
  1. Untuk tidak mengganggu pengamatan, pasien dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi kondom saat berhubungan seksual dan tidak hamil selama pengawasan.

KOMPLIKASI

Komplikasi mola hidatidosa meliputi perdarahan berat, anemia, syok, infeksi, eklamsia, tirotoksikosis, perforasi uterus dan keganasan (Penyakit Trofoblas Gestasional / PTG).

 

BAHAN BACAAN

  • Joseph HK dan M. Nugroho S. 2010. Catatan Kuliah Ginekologi dan Obstretri (Obsgyn). Yogyakarta: Nuha Medika.
  • Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi III. Jakarta: Media Aesculapius FKUI.
  • Nugroho, Taufan. 2010. Buku Ajar Obstretri untuk Mahsiswa Kebidanan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Baca juga :   Memilih Metode dan Jenis Alat Kontrasepsi yang Sesuai

 

Please Leave a Reply / Comment