Press "Enter" to skip to content

KESEHATAN

kesehatan masyarakatDalam pembelajaran kesehatan masyarakat tidak terlepas dari dua tokoh metologi Yunani, yaitu Asclepius dan Higeia. Kedua tokoh ini berperan besar dalam merintis kesehatan masyarakat.

Asclepius

Berdasarkan mitos Yunani, Asclepius disebutkan sebagai seorang dokter pertama yang tampan dan pandai meskipun tidak disebutkan sekolah atau pendidikan apa yang telah ditempuhnya, tetapi diceritakan bahwa ia dapat mengobati penyakit bahkan melakukan bedah berdasarkan prosedur-prosedur tertentu (surgical procedure) dengan baik (Notoatmodjo, 2015).

Sedangkan menurut Triwibowo dan Pusphandani (2015) dalam mitos Yunani menyatakan bahwa Asclepius merupakan dewa pengobatan dan penyembuhan. Asclepius hidup pada tahun 1200 sebelum Masehi. Asclepius diyakini mempunai kemampuan dalam bidang pengobatan, operasi dan penggunaan obat.

Kemahiran Asclepius dalam hal tersebut meletakkannya sebagai pencetus aliran kuratif.

Higeia

Higeia seorang asistennya Asclepius, yang kemudian diceritakan sebagai istrinya, juga telah melakukan upaya-upaya kesehatan. Apabila orang sudah jatuh sakit, Higeia lebih menganjurkan melakukan upaya-upaya secara alamiah untuk menyembuhkan penyakit tersebut, antara lain lebih baik dengan memperkuat tubuhnya dengan makanan yang baik, daripada dengan pengobatan/pembedahan (Notoatmodjo, 2015).

Sedangkan menurut Triwibowo dan Pusphandani (2015) dalam mitos Yunani Higeia dikenal sebagai dewi kebersihan dan sanitasi kesehatan. Higeia dan Asclepius memiliki ikatan darah, Higeia merupakan anak perempuan dari Asclepius dan Epione. Dalam bidang kesehatan Higeia lebih berperan dalam pencegahan penyakit melalui kebersihan dan sanitasi lingkungan. Sehingga nama Higeia diabadikan menjadi “Hygiene” yang dalam bahasa Indonesia berarti kebersihan.

Peran Higeia dalam pencegahan penyakit inilah yang kemudian membawanya sebagai tokoh aliran preventif.

Perbedaan ajaran Asclepius dan Higeia dalam pendekatan atau penanganan masalah kesehatan adalah:

  1. Asclepius melakukan pendekatan pengobatan penyakit setelah penyakit tersebut terjadi pada seseorang.
  2. Higeia mengajarkan pendekatan masalah kesehatan melalui “hidup seimbang”, seperti menghindari makanan/minuman yang beracun, makan makanan yang baik, cukup istirahat dan melakukan olahraga.

 PENGERTIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

Triwibowo dan Pusphandani (2015) mengemukakan kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni memelihara, melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat.

Ilmu dalam definisi ilmu kesehatan masyarakat dengan pengertian setiap petugas kesehatan sudah selayaknya memiliki pengetahuan dan keterampilan ilmu dasar kesehatan msyarakat serta berbagai disiplin lainnya yang secara operasional berkaitan.

Seni dalam definisi ilmu kesehatan masyarakat digunakan dalam upaya pemeliharaan kesehatan individu atau masyarakat yang memiliki nilai-nilai budaya, adat serta kebiasaan yang khusus dalam lingkungannya.

Winslow (1920) dalam Notoatmodjo (2015) membuat batasan kesehatan masyarakat yang sampai sekarang masih relevan, yaitu kesehatan masyarakat (public health) adalah ilmu dan seni, mencegah penyakit, memperpanjang hidup dan meningkatkan kesehatan melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat untuk:

  1. Perbaikan sanitasi lingkungan.
  2. Pemberantasan penyakit-penyakit menular.
  3. Pendidikan untuk kebersihan perorangan.
  4. Pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan.
  5. Pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara kesehatannya.

 RUANG LINGKUP KESEHATAN MASYARAKAT

Notoatmodjo (2015) mengemukakan ilmu kesehatan masyarakat pada mulanya hanya mencakup 2 (dua) disiplin keilmuan, yaitu ilmu bio-medis (medical biologi) dan ilmu-ilmu sosial (social sciences). Seiring dengan perkembangan ilmu, maka disiplin ilmu yang mendasari ilmu kesehatan masyarakat juga berkembang.

Sehingga sampai pada saat ini disiplin ilmu yang mendasari ilmu kesehatan masyarakat antara lain mencakup ilmu biologi, ilmu kedokteran, ilmu kimia, ilmu fisika, ilmu lingkungan, sosial, antropologi, psikologi, ilmu pendidikan dan sebagainya.

Secara garis besar, disiplin ilmu (cabang) yang menopang ilmu kesehatan masyarakat atau sering disebut sebagai pilar utama ilmu kesehatan masyarakat antara lain:

  1. Epidemiologi
  2. Biostatistik/statistik kesehatan
  3. Kesehatan lingkungan
  4. Kesehatan reproduksi
  5. Pendidikan (promosi) kesehatan dan ilmu perilaku
  6. Administrasi dan kebijakan kesehatan
  7. Gizi masyarakat
  8. Kesehatan dan keselamatan kerja

PERKEMBANGAN KESEHATAN MASYARAKAT DI INDONESIA

Ilmu kesehatan masyarakat di Indonesia mulai berkembang pada abad ke-16 pada masa pemerintahan Belanda. berikut ini akan dipaparkan tentang sejarah perkembangan ilmu kesehatan masyarakat di Indonesia dari masa ke masa:

Tebel : Sejarah Ilmu Kesehatan Masyarakat di Indonesia

FASE

TAHUN

SEJARAH

1 Abad Ke-16 Pemerintahan Belanda mengadakan upaya pemberantasan cacar dan kolera yang sangat ditakuti masyarakat pada waktu itu. Sehingga berawal dari wabah kolera tersebut maka pemerintah Belanda pada waktu itu melakukan upaya-upaya kesehatan masyarakat.
2 1807 Pemerintahan Jendral Daendels, telah dilakukan pelatihan dukun bayi dalam praktek persalinan. Upaya ini dilakukan dalam rangka upaya penurunan angka kematian bayi pada waktu itu, tetapi tidak berlangsung lama, karena langkanya tenaga pelatih
3 1888 Berdiri pusat laboratorium kedokteran di Bandung, yang kemudian berkembang pada tahun-tahun berikutnya di Medan, Semarang, surabaya, dan Yogyakarta. Laboratorium ini menunjang pemberantasan penyakit seperti malaria, lepra, cacar, gizi dan sanitasi.
4 1925 Hydrich, seorang petugas kesehatan pemerintah Belanda mengembangkan daerah percontohan dengan melakukan propaganda (pendidikan) penyuluhan kesehatan di Purwokerto, Banyumas, karena tingginya angka kematian dan kesakitan.
5 1927 STOVIA (sekolah untuk pendidikan dokter pribumi) berubah menjadi sekolah kedokteran dan akhirnya sejak berdirinya UI tahun 1947 berubah menjadi FKUI. Sekolah dokter tersebut punya andil besar dalam menghasilkan tenaga-tenaga (dokter-dokter) yang mengembangkan kesehatan masyarakat Indonesia.
6 1930 Pendaftaran dukun bayi sebagai penolong dan perawatan persalinan.
7 1935 Dilakukan program pemberantasan pes, karena terjadi epidemi, dengan penyemprotan DDT dan vaksinasi massal.
8 1951 Diperkenalkannya konsep Bandung (Bandung Plan) oleh Dr.Y. Leimena dan dr. Patah (yang kemudian dikenal dengan Patah-Leimena), yang intinya bahwa dalam pelayanan kesehatan masyarakat, aspek kuratif dan preventif tidak dapat dipisahkan. konsep ini kemudian diadopsi oleh WHO. Diyakini bahwa gagasan inilah yang kemudian dirumuskan sebagai konsep pengembangan       sistem pelayanan kesehatan tingkat primer dengan membentuk unit-unit organisasi fungsional dari Dinas Kesehatan Kabupaten di tiap kecamatan yang mulai dikembangkan sejak tahun 1969/1970 dan kemudian disebut Puskesmas.
9 1952 Pelatihan intensif dukun bayi dilaksanakan
10 1956 Dr.Y.Sulianti mendirikan “Proyek Bekasi” sebagai proyek percontohan/model pelayanan bagi pengembangan kesehatan masyarakat dan pusat pelatihan, sebuah model keterpaduan antara pelayanan kesehatan pedesaan dan pelayanan medis.
11 1967 Seminar membahas dan merumuskan program kesehatan masyarakat terpadu sesuai dengan masyarakat Indonesia. Kesimpulan seminar ini adalah disepakatinya sistem Puskesmas yang terdiri dari Puskesmas tipe A, tipe B, dan C.
12 1968 Rapat Kerja Kesehatan Nasional, dicetuskan bahwa Puskesmas adalah merupakan sistem pelayanan kesehatan terpadu, yang kemudian dikembangkan oleh pemerintah (Depkes) menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Puskesmas disepakati sebagai suatu unit pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan kuratif dan preventif secara terpadu, menyeluruh dan mudah dijangkau, dalam wilayah kerja kecamatan atau sebagian kecamatan di kotamadya/kabupaten.
13 1969 Sistem Puskesmas disepakati 2 saja, yaitu tipe A (dikepalai dokter) dan tipe B (dikelola paramedis). Pada tahun 1969-1974 yang dikenal dengan masa Pelita 1, dimulai program kesehatan Puskesmas di sejumlah kecamatan dari sejumlah Kabupaten di tiap Propinsi.
14 1979 Tidak dibedakan antara Puskesmas A atau B, hanya ada satu tipe Puskesmas saja, yang dikepalai seorang dokter dengan stratifikasi puskesmas ada 3 (sangat baik, rata-rata dan standard). Selanjutnya Puskesmas dilengkapi dengan piranti manajerial yang lain, yaitu Micro Planning untuk perencanaan, dan Lokakarya Mini (LokMin) untuk pengorganisasian kegiatan dan pengembangan kerjasama tim.
15 1984 Dikembangkan program paket terpadu kesehatan dan keluarga berencana di Puskesmas (KIA, KB, Gizi, Penaggulangan Diare, Immunisasi).
16 Awal 1990-an Puskesmas menjelma menjadi kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga memberdayakan peran serta masyarakat, selain memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.

 

REFERENSI

  • Notoatmodjo, Soekidjo. 2015. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Triwibowo, Cecep. Mitha Erlisya Pusphandani. 2015. Pengantar Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat untuk Mahasiswa Kesehatan Masyarakat, Keperawatan dan Kebidanan. Yogyakarta: Nuha Medika.

 

Translate »