Press "Enter" to skip to content

Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI)

Safwan Sy 0

PENGERTIAN KIPI

Reaksi simpang dikenal pula dengan istilah Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) atau Adverse Event Following Immunization (AEFI).

KIPI adalah kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi baik berupa reaksi vaksin, reaksi suntikan, efek farmakologis, kesalahan prosedur, koinsiden atau hubungan kausal yang tidak dapat ditentukan.

KIPI serius merupakan kejadian medis setelah imunisasi yang tidak diinginkan yang menyebabkan rawat inap atau perpanjangan rawat inap, kecacatan yang menetap atau signifikan dan kematian, serta menimbulkan keresahan di masyarakat.

PENYEBAB DAN KLASIFIKASI

Komite Nasional Pengkajian dan Penanggulangan (KomNas-PP) KIPI mengelompokkan etiologi KIPI dalam 2 (dua) klasifikasi, yaitu klasifikasi lapangan (untuk petugas di lapangan) dan klasifikasi kausalitas (untuk telaah Komnas KIPI).

Klasifikasi lapangan

Sesuai dengan manfaat di lapangan maka Komnas PP KIPI memakai kriteria WHO Western Pacific untuk memilah KIPI dalam (5) lima kelompok penyebab, yaitu:

  1. Kesalahan prosedur/teknik pelaksanaan (programmatic errors)

Sebagian besar KIPI berhubungan dengan masalah prosedur dan teknik pelaksanaan imunisasi yang meliputi kesalahan prosedur penyimpanan, pengelolaan, dan tata laksana pemberian vaksin.

  1. Reaksi suntikan

Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum suntik baik langsung maupun tidak langsung harus dicatat sebagai reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung misalnya rasa sakit, bengkak dan kemerahan pada tempat suntikan, sedangkan reaksi suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing, mual, sampai sinkope.

  1. Induksi vaksin (reaksi vaksin)

Gejala KIPI yang disebabkan induksi vaksin umumnya sudah dapat diprediksi terlebih dahulu karena merupakan reaksi simpang vaksin dan secara klinis biasanya ringan. Walaupun demikian dapat saja terjadi gejala klinis hebat seperti reaksi anafilaktik sistemik dengan risiko kematian.

Tabel 1. Reaksi Vaksin

Reaksi lokal Rasa nyeri di tempat suntikan, bengkak kemerahan di tempat suntikan (10%), bengkak pada daerah suntikan DPT dan tetanus (50%), BCG skar terjadi minimal setelah 2 minggu kemudian ulserasi dan sembuh setelah beberapa bulan.
Reaksi sistemik Demam (10%), kecuali DPT (hampir 50%), iritabel, malaise, gejala sistemik. Pada MMR dan campak reaksi sistemik disebabkan infeksi virus vaksin. Terjadi demam dan atau ruam, konjungtivitis (5–15%), dan lebih ringan dibandingkan infeksi campak, tetapi berat pada kasus imunodefisiensi. Pada Mumps terjadi pembengkakan kelenjar parotis, rubela terjadi rasa nyeri sendi (15%) dan pembengkakan limfe. Pada Oral Polio Vaccine (OPV) diare (<1%), pusing dan nyeri otot.
Reaksi vaksin berat Kejang, trombositopenia, hypotonic hyporesponsive episode (HHE), persistent inconsolable srceaming bersifat self-imiting dan tidak merupakan masalah jangka panjang, anafilaksis, potensial menjadi fatal tetapi dapat disembuhkan tanpa dampak jangka panjang. Enselofati akibat imunisasi campak atau DTP.
  1. Faktor kebetulan (koinsiden)
Baca juga :   Vaksin Jerap DT

Salah satu indikator faktor kebetulan ini ditandai dengan ditemukannya kejadian yang sama disaat bersamaan pada kelompok populasi setempat dengan karakteristik serupa tetapi tidak mendapat imunisasi.

  1. Penyebab tidak diketahui

Bila kejadian atau masalah yang dilaporkan belum dapat dikelompokkan ke dalam salah satu penyebab maka untuk sementara dimasukkan ke dalam kelompok ini sambil menunggu informasi lebih lanjut. Biasanya dengan kelengkapan informasi tersebut akan dapat ditentukan kelompok penyebab KIPI.

Klasifikasi Kausalitas

Klasifikasi kausalitas mengelompokkan KIPI menjadi 6 (enam) kelompok, yaitu:

  1. Very likely / Certain

Kejadian klinis dengan hubungan waktu yang mungkin (masuk akal) terhadap pemberian vaksin dan tidak dapat dijelaskan berdasarkan penyakit penyerta atau obat atau zat kimia lain.

  1. Probable

Kejadian klinis dengan hubungan waktu yang masuk akal dengan pemberian vaksin dan sepertinya tidak berhubungan dengan penyakit penyerta atau obat atau zat kimia lain.

  1. Possible

Kejadian klinis dengan hubungan waktu yang masuk akal dengan pemberian vaksin namun dapat berhubungan dengan penyakit penyerta atau obat atau zat kimia lain.

  1. Unlikely

Kejadian klinis dengan hubungan waktu yang mungkin (masuk akal) terhadap pemberian vaksin menyebabkan hubungan kasual tidak mungkin namun mungkin dapat dijelaskan berdasarkan penyakit penyerta atau obat atau zat kimia lain.

  1. Unrelated

Kejadian klinis dengan hubungan waktu yang tidak mungkin (masuk akal) terhadap pemberian vaksin dan dapat dijelaskan berdasarkan penyakit penyerta atau obat atau zat kimia lain.

  1. Unclassifiable

Kejadian klinis dengan informasi yang tidak cukup untuk memungkinkan dilakukan penilaian dan identifikasi penyebab.

Baca juga :   Seberapa Jauh Kita Mengetahui Tentang Imunisasi..??

KELOMPOK RISIKO TINGGI

Untuk mengurangi risiko timbulnya KIPI maka harus diperhatikan apakah resipien termasuk dalam kelompok risiko. Yang dimaksud dengan kelompok risiko adalah:

  1. Anak yang mendapat reaksi simpang pada imunisasi terdahulu.
  2. Bayi berat lahir rendah.

Pada dasarnya jadwal imunisasi bayi kurang bulan sama dengan bayi cukup bulan. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada bayi kurang bulan adalah:

  1. Titer imunitas pasif melalui transmisi maternal lebih rendah daripada bayi cukup bulan.
  2. Apabila berat badan bayi sangat kecil (<1000 gram) imunisasi ditunda dan diberikan setelah bayi mencapai berat 2000 gram atau berumur 2 bulan; kecuali untuk imunisasi hepatitis B pada bayi dengan ibu yang HBsAg positif.

KASUS KIPI YANG HARUS DILAPORKAN

Daftar KIPI yang dilaporkan harus meliputi setiap kasus dirawat, meninggal atau KIPI berita yang diyakini masyarakat atau tenaga kesehatan yang disebabkan oleh imunisasi.

Tabel 2. Kasus-kasus KIPI yang harus dilaporkan

Kurun Waktu Terjadi KIPI Gejala Klinis
Dalam 24 jam Reaksi anafilaktoid (reaksi akut hipersensitif), syok anafilaktik, menangis keras terus lebih dari 3 jam (persistent inconsolable screaming), episode hipotonikhiporesponsif, Toxic shock syndrome (TSS)
Dalam 5 hari Reaksi lokal yang berat, sepsis, abses di tempat suntikan (bakteria/steril)
Dalam 15 hari Kejang, termasuk kejang demam (6–12 hari untuk campak/MMR; 0–2 hari untuk DPT), ensefalopati (6–12 hari untuk campak/MMR; 0–2 hari untuk DPT).
Dalam 3 bulan Acute flaccid paralysis/lumpuh layu (4–30 hari untuk penerima OPV; 4–75 hari) untuk kontak, neuritis brakialis (2–28 hari sesudah imunisasi tetanus), trombositopenia (15–35 hari sesudah imunisasi campak/MMR)
Antara 1 hingga 12 bulan sesudah imunisasi BCG Limfadenitis, Infeksi BCG menyeluruh (Disseminated BCG infection), Osteitis/osteomeolitis
Tidak ada batas waktu Setiap kematian, rawat inap, atau kejadian lain yang berat dan kejadian yang tidak biasa, yang dianggap oleh tenaga kesehatan atau masyarakat ada hubungannya dengan imunisasi.
Baca juga :   Apa Itu Penyakit Campak ?

Untuk kasus KIPI dengan reaksi yang ringan, seperti reaksi lokal, demam, dan gejala-gejala sistemis yang dapat sembuh sendiri, tidak perlu dilaporkan.

Reaksi lokal yang berat (seperti pembengkakan hingga ke sendi yang paling dekat; nyeri; kemerahan pembengkakan lebih dari 3 hari; atau membutuhkan perawatan di rumah sakit), terutama jika ditemukan kasus berkelompok sebaiknya dilaporkan.

Kejadian reaksi lokal yang mengalami peningkatan frekuensi, walaupun tidak berat, juga sebaiknya dilaporkan. Kasus ini bisa menjadi pertanda kesalahan program atau menjadi masalah untuk batch vaksin tertentu.

Jika ada keraguan apakah suatu kasus harus dilaporkan atau tidak, sebaiknya dilaporkan, agar mendapat umpan balik positif apabila kasus tersebut dilaporkan.

TINDAK LANJUT KIPI

  1. Pengobatan

Dengan adanya data KIPI, dokter Puskesmas dapat memberikan pengobatan segera. Apabila KIPI tergolong serius harus segera dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut dan pemberian pengobatan segera.

Klik DISINI untuk melihat tabel gejala KIPI dan tindakan pengobatan yang harus dilakukan.

  1. Komunikasi

Kepercayaan merupakan kunci utama komunikasi pada setiap tingkat, hindari membuat pernyataan yang terlalu dini tentang penyebab dari kejadian sebelum pelacakan lengkap. Dalam berkomunikasi dengan masyarakat, akan bermanfaat apabila membangun jaringan dengan tokoh masyarakat dan tenaga kesehatan di daerah, jadi informasi tersebut bisa dengan cepat disebarkan.

  1. Perbaikan Mutu Layanan

Setelah didapatkan kesimpulan penyebab dari hasil investigasi KIPI maka dilakukan tindak lanjut perbaikan seperti pada tabel berikut ini:

Tabel 3. Tindak Lanjut Perbaikan

Reaksi vaksin Tarik batch, perubahan prosedur kontrol
Kesalahan program Perbaiki prosedur, pengawasan dan pelatihan
Koinsiden Komunikasi
Tidak diketahui Investigasi lanjutan

 

REFERENSI

Menkes RI. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Imunisasi. Jakarta: Menkes RI.

 

Please Leave a Reply / Comment