Press "Enter" to skip to content

Kehamilan Ektopik: Hamil di Luar Kandungan

Safwan Sy 0

KEHAMILAN EKTOPIK

Kehamilan ektopik adalah implantasi dan pertumbuhan hasil konsepsi di luar endometrium kavum uteri. Kehamilan ektopik disebut juga dengan kehamilan di luar kandungan. Pada kehamilan ektopik sel telur yang telah dibuahi menempel pada organ-organ di luar rahim. Jika dibiarkan tumbuh, kondisi ini dapat merusak organ terdekat dan menyebabkan kehilangan darah yang mengancam jiwa.

ETIOLOGI

  1. Faktor tuba: yaitu salpingitis, perlekatan tuba, kelainan kongenital tuba, pembedahan sebelumnya, endometriosis, tumor yang mengubah bentuk tuba, dan kehamilan ektopik sebelumnya.
  2. Kelainan zigot: yaitu kelainan kromosom dan malformasi.
  3. Faktor ovarium: yaitu migrasi luar ovum (perjalanan ovum dari ovarium kanan ke tuba kiri atau sebaliknya), pembesaran ovarium, dan unextruded ovum.
  4. Penggunaan hormon eksogen (estrogen) seperti pada kontrasepsi oral.
  5. Faktor lain seperti aborsi tuba dan pemasangan IUD ((Intra Uterine Device).

KLASIFIKASI

Kehamilan ektopik dapat diklasifikasikan berdasarkan tempat implantasinya, yaitu:

  1. Kehamilan ektopik tuba: dibagi lebih lanjut menurut bagian anatomi, yaitu: ampula, isthmus, fimbrial dan interstisial.
  2. Kehamilan ovarium: dapat terjadi setelah fertilisasi ovum yang tidak dikeluarkan.
  3. Kehamilan abdominal: dapat terjadi secara primer, dengan implantasi awal zigot diluar tuba (misalnya, pada hati) atau sekunder karena ekspulsi atau ruptur kehamilan tuba.
  4. Implantasi servikal: ditunjukan oleh serviks yang membesar (seringkali sebesar uterus tidak hamil, dikenal sebagai tanda jam pasir. Tanda ini berupa serviks yang membesar dengan banyak vaskularisasi dan perdarahan, dengan ostium interna yang rapat dan celah pada ostium eksterna).
  5. Kehamilan ektopik uterus: dapat terjadi pada implantasi dalam kornu, divertikulum uteri, sakulasi uteri, kornu rudimenter atau dinding otot (intramural).
  6. Kehamilan intrauterine kombinasi (heteropik).
  7. Kehamilan intraligamentum.
Baca juga :   Deteksi Dini Kanker Cervix Melalui Pemeriksaan Pap Smear

MANIFESTASI KLINIS

  1. Abdominal menstruation: amenorea, vaginal spotting dengan derajat yang bervariasi, biasanya darah berwarna kecoklatan dan keluarnya intermitten ataupun continue.
  2. Perasaan nyeri yang tiba-tiba di daerah abdomen dan pelvik, yang dapat menandakan rupturnya kehamilan ektopik, atau bisa terjadi sebelum terjadinya ruptur.
  3. Gejala gastrointestinal seperti mual juga dapat muncul disertai pusing, lemas hingga pingsan.
  4. Pleuritic chest pain, bisa terjadi akibat iritasi diafragma akibat perdarahan.
  5. Pada pemeriksaan vagina terdapat nyeri goyang bila serviks digerakkan, nyeri pada parabaan, dan kavum Douglasi menonjol karena ada bekuan darah.
  6. Perubahan uterus, uterus dapat tumbuh membesar pada 3 bulan pertama akibat hormon yang dilepaskan plasenta. Uterus dapat terdesak ke kiri yang berlawanan dengan massa ektopik.
  7. Tanda Cullen: sekitar pusat atau linea alba kelihatan biru hitam dan lembam.
  8. Trias Kehamilan endopik: yaitu amenorea, nyeri dan perdarahan per vagina.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

  1. Pemeriksaan Laboratorium
  • Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit serial tiap satu jam menunjukka penurunan akibat perdarahan.
  • Adanya lekositosis (dapat mencapai > 30.000.000/µL).
  • Urinary Pregnancy Test, dengan metode inbisiti aglutinasi hanya menunjukkan positif pada kehamilan ektopik sebesar 50-69%.
  • Serum β-hCG assay.
  • Serum progerteron, pada kehamilan ektopik kadarnya lebih rendah dibanding kehamilan normal intrauterine. Kadar < 5 ng/mL menunjukkan kemungkinan besar adanya kehamilan abnormal. Pemeriksaan ini tidak bisa berdiri sendiri dalam mendiagnosis kehamilan ektopik.
  1. Ultrasound Imaging
  • USG Abdominal, kehamilan tuba sulit dideteksi dengan metode ini.
  • USG vaginal, untuk mendeteksi letak gestational sac. Pada usia kehamilan ≥ 6 minggu, bila tidak dijumpai gestational sac maka bisa dicurigai kehamilan ektopik.
  • Color dan Pulsed Doppler Ultrasound, untuk mengindentifikasi karakteristik warna vascular, apakah terletak di intraunterine atau ekstrauterine.
  1. Kombinasi Serum β-hCG dan Sonography
Baca juga :   Usia Remaja ; Apa Saja Karakter dan Tugasnya ??

Peningkatan serum hCG > 2.000 mIU/mL disertai gestatinal sac intrauterine yang tidak dapat diindentifikasi, kemungkinan adanya kehamilan entrauterine sangat besar.

  1. Kuldosentesis

Kuldosentesis merupakan suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah di dalam kavum Douglasi terdapat darah. Adapun teknik Kuldosentesis yaitu:

  • Baringkan pasien dalam posisi litotomi.
  • Bersihkan vulva dan vagina dengan antiseptik.
  • Pasang speculum dan jepit bibir belakang porsio dengan cuman serviks, lakukan traksi ke depan sehingga forniks posterior tampak.
  • Suntikkan jarum spinal no. 18 ke kavum Douglasi dan lakukan pengisapan dengan spuit 10 ml.
  • Bila pada pengisapan keluar darah, perhatikan apakah darahnya berwarna coklat sampai hitam yang tidak membeku atau berupa bekuan kecil yang merupakan tanda hematokel retrouterina.
  1. Laparoskopi

Merupakan gold standar untuk mendiagnosis kehamilan ektopik. Laparoskopi dilakukan jika dengan pemeriksaan lain disgnosis kehamilan ektopik masih belum dapat ditegakkan. Dengan metode ini tuba falopi dan ovarium dapat tervisualisasi dengan baik.


Cara Cepat Hamil

TERAPI PEMBEDAHAN

Merupakan terapi yang luas digunakan untuk kehamilan ektopik baik dengan cara laparotomi ataupun laparoskopi. Laparotomi diindikasikan pada kondisi hemodinamik pasien yang tidak stabil, sedangkan laparoskopi pada kondisi hemodinamik pasien yang stabil.

Linear Salphingostomy prosedur dilakukan pada kehamilan ektopik yang tidak ruptur, dan pasien yang mengiginkan fertilitasnya dipertahankan. Salphingostomy potensial mengurangi insidensi kehamilan ektopik berulang.

TERAPI FARMAKOLOGIS

Terapi ini dipertimbangkan pada keadaan dengan kehamilan ektiopik yang belum ruptur, terutama pada pasien yang masih memerlukan sistem reproduksi.

Baca juga :   Mual Muntah Berlebihan Selama Kehamilan (Hiperemesis Gravidarum)

Agen yang biasa digunakan adalah Methotrexate.

  • Dosis – single dose 50 mg/m2 IM, atau variable dose methotrexate 1 mg/Kg IM dan leukovorin 0,1 mg/Kg berselang-seling selama 8 hari dengan monitoring kadar β-hCG.
  • Seleksi pasien – masa gestesi < 6 minggu, diameter massa tuba < 3,5 cm. Fetus telah mati dan kadar β-hCG < 15.000 mIU.

KOMPLIKASI

  • Infeksi
  • Sterilitas
  • Pecahnya tuba falopi
  • Jaringan tropoblastik persisten.
  • Kehamilan ektopik persisten (merupakan komplikasi yang tersering).
  • Pada pengobatan konservatif yaitu bila kehamilan ektopik terganggu telah lama berlangsung (4-6 minggu), terjadi perdarahan ulang, ini merupakan indikasi operasi.
  • Komplikasi juga tergantung dari lokasi tumbuh dan berkembangnya embrio.

 

BAHAN BACAAN

  • Benson, Ralph C., Martin L. Pernoll. 2009. Buku Saku Obstetri & Ginekologi Edisi 9. Jakarta: EGC.
  • Joseph HK dan M. Nugroho S. 2010. Catatan Kuliah Ginekologi dan Obstretri (Obsgyn). Yogyakarta: Nuha Medika.
  • Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi III. Jakarta: Media Aesculapius FKUI.
  • Nugroho, Taufan. 2010. Buku Ajar Obstretri untuk Mahasiswa Kebidanan. Yogyakarta: Nuha Medika.

 

Please Leave a Reply / Comment