Press "Enter" to skip to content

Kampung Naga Tasikmalaya ; Wisata Ilmiah Antropologi Kesehatan

Safwan Sy 2

Salam bahagia sobat sekalian, sudah seminggu berlalu pengalaman wisata kita di Kampung Naga Tasikmalaya. Iya,, bisa saya katakan ini adalah sebuah ajang Wisata Ilmiah Antropologi Kesehatan yang penuh nuansa kegembiraan. Disamping kita menggali ilmu, kita juga bisa menikmati indahnya panaroma alam. Dan yang tidak kalah pentingnya, kita bisa menyaksikan bukti nyata bagaimana teguhnya masyakarat Kampung Naga dalam mempertahankan kemurnian adat istiadatnya di era moderisasi.

Sabtu malam atau malam minggu tepatnya tanggal 24 November 2017, 47 mahasiswa yang didampingi oleh seorang  dosen pembimbing yang sudah siap berangkat menggali ilmu ke Kampung Naga sepakat berkumpul di kampus kebanggaan kami di STIKIM (Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju) yang beralamat di Jl. Harapan, RT.2/RW.7, Lenteng Agung, Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan. Jam menunjukkan pukul 21.20 WIB, kami semua sudah berkumpul dan menempati kursi masing-masing di dalam bus.

Rute perjalanan

Kami menggunakan bus pariwisata yang sudah dibooking khusus untuk perjalanan dari berangkat sampai pulang kembali. Perjalan di mulai dari Jl. Raya Lenteng Agung Timur → → arah ke Jl. Raya Lenteng Agung Barat → → Jl. Raya Pasar Minggu / Jl. Tj. Barat Raya → → Jl. Term. Simatupang → → Jl. Tol Lingkar Luar Jakarta (Jl. Tol Lingkar Timur) → → Jl. Raya Pantura / Jl. Tol Jakarta – Cikampek → → Jl. Tol Cipularang → → Jl. Tol Purbaleunyi → → Jl. Raya Bandung – Garut / Jl. Raya Rancaekek – Garut → → Jalan Raya Leles – Kadungora → → Jl. Garut – Tasikmalaya → → lokasi Kampung Naga.

Lebih kurang begitulah rute untuk menuju Kampung Naya. Cukup gampang bukan..?? Oiya ,, hampir kelupaan, kami tiba diparkiran / gerbang menuju kampung naga sekitar jam 03.15 WIB tanggal 26 November 2013. Waktu yang dibutuhkan untuk ke kampung naga sekitar 5 – 6 jam perjalanan. Silahkan dicoba bagi yang bernimat.

Sesampai di tempat pemarkiran mobil/bus kampung naga, kami disambut oleh 3 orang pemandu yang dibilang cukup ramah. Sobat bisa beristirah sejenak disana, terdapat beberapa pemandian, toilet umum, kantin, mushalla dan yang paling berkesan adalah Tugu Kujang Pusaka dan gerbang selamat datang di Kampung Naga. Disana sobat tidak usah bingung, cukup mencari pemandu yang menggunakan name tag atau pakaian khusus. Kebetulan kami sudah duluan membooking pemandu khusus. Semua pemandu disana sudah terorganisir dengan baik, sehingga mudah untuk mendapatkannya. Namun sayang tarifnya masih belum jelas, tergantung kita  mau kasih berapa. Mengunjungi Kampung Naga sebenarnya tak diharuskan menggunakan penamdu juga, karena lokasi dan jalurnya jelas, serta perkampungannya juga hanya satu. Dan tidak ada tiket retribusi untuk masuk perkampungan ini.

Sekitar jam 07.00 pagi kami langsung bergegas menuju pemukiman Kampung Naga. Menapaki anak tangga di Kampung Naga cukup menguras tenaga dan keringat. Tak usah heran, karena jumlah anak tangga di sana mencapai 439 buah. Dan itu hanya untuk satu kali perjalanan pergi. Saat pulang, Sobat tentu saja harus melalui anak tangga yang sama dengan jumlah yang sama saat kembali pulang.

Baca juga :   Kumpulan Jurnal Diare

Namun, panorama indah di sana mampu menghilangkan rasa lelah setelah melalui anak-anak tangga tersebut. Bentangan sawah, tebing hingga sungai merupakan pemandangan indah yang akan Sobat jumpai saat berada di Kampung Naga.

Ditengah perjalan, kami berjumpa dengan sepasang suami istri warga Kampung Naga yang hendak pergi… etah kemana kami pun tidak tahu, yang jelas suami istri ini sangat ramah. Kami saling menyapa walaupun saya sendiri radar bingung dengan bahaya sundanya…hehehhee.. tapi tenang aja, kami ada juru bahasa yang handal sehingga proses komunikasi kami berjalan lancar. Yang paling serunya lagi, sebelum berpisah kami menyempatkan waktu sejenak untuk foto bareng.

Lebih kurang 20 menit perjalan, tibalah kami di perkampungan Kampung Naga. Semua berkumpul di balai pertemuan (lupa saya nama tempatnya apa) untuk mendengar sambutan dari pak kuncen.

Sejarah Kampung Naga

Kampung Naga merupakan sebuah kampung adat yang masih lestari. Masyarakatnya masih memegang adat tradisi nenek moyang mereka. Mereka menolak intervensi dari pihak luar jika hal itu mencampuri dan merusak kelestarian kampung tersebut. Namun, asal mula kampung ini sendiri tidak memiliki titik terang. Tak ada kejelasan sejarah, kapan dan siapa pendiri serta apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung dengan budaya yang masih kuat ini. Pak kuncen menceritakan “Bahwa hal ini disebabkan oleh terbakarnya arsip/ sejarah mereka pada saat pembakaran Kampung Naga oleh Organisasi DI/TII Kartosoewiryo. Pada saat itu, DI/TII menginginkan terciptanya negara Islam di Indonesia. Kampung Naga yang saat itu lebih mendukung Soekarno dan kurang simpatik dengan niat Organisasi tersebut. Oleh karena itu, DI/TII yang tidak mendapatkan simpati warga Kampung Naga membumihanguskan perkampungan tersebut pada tahun 1956”.

Lokasi dan Demografi

Secara administrative, Kampung Naga berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung Naga yang luas areanya 1,5 Ha ini dihuni oleh 300 orang dari 101 kepala keluarga. Di sana terdapat 113 bangunan yang terdiri dari 110 rumah, tiga bangunan sarana umum berupa masjid, balai pertemuan dan lumbung padi.

Sebenarnya jumlah masyarakat Kampung Naga masih sangat banyak, mereka tinggal di luar Kampung Naga bahkan ada juga orang Naga yang bertempat tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Cirebon, Garut, Tasikmalaya dan lain-lain.Mereka yang bertempat di luar Kampung Naga, masih tetap terikat oleh adat Kampung Naga dan setiap penyelenggaraan upacara adat mereka datang ke kampung untuk berziarah ke makam keramat. Namun, mereka tidak terikat lagi oleh ketentuan adat seperti membuat rumah panggung dan aturan lainnya.

Baca juga :   Tips Mudik Sehat, Aman dan Selamat

Untuk kelangsungan hidupnya, masyarakat kampung memiliki sumber mata pencaharian dari pertanian sawah dan lading baik sebagai pemilik, penggarap, maupun buruh. Sebagai mata pencaharian tambahan, sebagian masyarakat membuat barang anyaman atau kerajinan tangan dari bambu.

Sistem Pemerintahan

Menilik pola kepemimpinan Kampung Naga kita akan mendapatkan keselarasan antar dua pemimpin dengan tugasnya masing-masing yaitu epmerintahan desa dan pemimpin adat atau yang oleh penduduk Kampung Naga disebut sebagai Kuncen. Peran keduanya saling bersinergi satu sama lain untuk tujuan keharmonisan warga Kampung Naga. Sang kuncen yang meski begitu berkuasa dalam hal adat istiadat jika berhubungan dengan sistem pemerintahan desa maka harus taat dan patuh pada RT atau RW, begitu juga Pak RT dan Pak RW mesti taat pada sang Kuncen apabila berurusan dengan adat istiadat dan kehidupan kerohanian.

Sebagai kampung adat, Kampung Naga memiliki sebuah lembaga adat dengan tiga tokoh adat yang terdiri dari kuncen, lebe adat dan punduh adat. Posisi tokoh adat tersebut dijabat secara turun-temurun dan tidak dipilih warga. Kuncen bertugas memimpin upacara adat. Lebe membantu pihak yang meninggal, mulai dari memandikan hingga menguburkan. Sedangkan punduh mempunyai tugas sebagai penyebar informasi kepada masyarakat.

Religi, Adat Istiadat dan Ilmu Pengetahuan

Penduduk Kampung Naga semuanya beragama islam, ini dapat dilihat dari waktu upacara Hajat Sasih yang dilakukan 5 kali dalam setahun .Penentuan waktunya berkaitan erat dengan tradisi Islam, yaitu Muharam , Maulud, Syakban , Syawal dan Zulhijah/Idul Adha. Walaupun mereka menyatakan memeluk agama Islam, mereka tetap menjaga warisan budaya leluhurnya. Menurut kepercayaan masyarakat Kampung Naga, dengan menjalankan adat-istiadat warisan nenek moyang berarti menghormati para leluhur.

Segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran leluhur Kampung Naga dan sesuatu yang tidak dilakukan leluhurnya dianggap sesuatu yang tabu. Apabila hal-hal tersebut dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga berarti melanggar adat, tidak menghormati leluhur, hal ini pasti akan menimbulkan malapetaka.

Tabu, pantangan atau pamali bagi masyarakat Kampung Naga masih dilaksanakan dengan patuh khususnya dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang berkenaan dengan aktivitas kehidupannya. Pantangan atau pamali merupakan ketentuan hukum yang tidak tertulis yang mereka junjung tinggi dan dipatuhi oleh setiap orang. Misalnya tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah rumah,pakaian upacara, kesenian, dan sebagainya.

Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu. Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang. Lantai rumah harus terbuat dari bambu atau papan kayu. Rumah harus menghadap kesebelah utara atau ke sebelah selatan dengan memanjang kearah barat-timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok, walaupun mampu membuat rumah tembok.

Rumah tidak boleh dilengkapi dengan perabotan, misalnya kursi, meja, dan tempat tidur. Rumah tidak boleh mempunyai daun pintu di dua arah berlawanan. Karena menurut anggapan masyarakat Kampung Naga, rizki yang masuk kedalam rumah melaui pintu depan tidak akan keluar melalui pintu belakang. Untuk itu dalam memasang daun pintu, mereka selalu menghindari memasang daun pintu yang sejajar dalam satu garis lurus.

Baca juga :   Aspek Kesehatan dan Penyediaan Air Minum

Di Kampung Naga juga tidak terdapat listrik, biasanya warga menggunakan lentera sebagai sumber penerangan di rumahnya.

Adapun pantangan atau tabu yang lainnya yaitu pada hari Selasa, Rabu, dan Sabtu, Masyarakat Kampung Naga dilarang membicarakan soal adat-istiadat dan asal usul kampung Naga. Tidak boleh menjulurkan kaki ke arah barat, karena arah barat merupakan arah kiblat umat islam.

Sedangkan kesenian yang merupakan warisan leluhur masyarakat Kampung Naga adalah terbangan, angklung, beluk, dan rengkong.

Aspek Kesehatan

Dalam bidang kesehatan masyarakat Kampung Naga lebih menggunaan pengobatan secara alami sebagai langkah pertama. Masyarakatnya sangat dekat dengan alam, hampir semua tanaman disekitar Kampung Naga bisa digunakan sebagai obat, bahkan mereka memiliki tanaman apotek keluarga yang khusus di rawat untuk kebutuhan pengobatan. Dalam hal kesehatan, masyarakat juga sangat terbuka dan tertolong dengan adanya kunjungan mahasiswa/peneliti bagian kesehatan. Mereka bisa mengetahui penyakit yang sedang dialaminya. Bahkan tidak jarang juga sebagian tim kesehatan melakukan baksos / pengobatan gratis untuk masyarakat kampung naga.

Masyarakat Kampung Naga juga berobat ke rumah sakit,dokter, mantri dan bidan yang ada di luar Kampung Naga. Ada sebagian anggota keluarga masyarakat Kampung Naga juga yang menjadi tenaga kesehatan (matri dan bidan) yang bekerja di sejumlah instansi kesehatan. Penyakit yang banyak di alami masyarakat Kampung Naga antara lain seperti hipertensi, reumathoid artritis dan penyakit kulit lainnya.

Dalam hal Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masyarakat Kampung Naga sudah mulai sadar dan menerapkan hal tersebut. Hal ini dapat dilihat dari lingkungan Kampung Naga yang sangat bersih dan tertata rapi. Sepanjang jalan menuju Kampung Naga kira-kira setiap 50 meter terdapat satu buah tempat sampah yang terurus dengan baik, disetiap rumah warga juga terdapat tempat sampah. Warga kampung Naga memisahkan rumah mereka dengan tempat MCK, dan yang lebih menarik lagi warga juga membedakan tepat mandi dan mencuci dengan toilet.

Warga Kampung Naga mengeluh dengan banyaknya sampah kiriman atau sampah titian. Dengan kata lain sampah kiriman saat musim hujan yang di bawa oleh arus air sungai dan tertumpuk di pergampungan mereka. Sedangkan sampah titipan yaitu sampah yang di buang sembarangan oleh pengunjung baik masyarakat umum maupun mahasiswa penelitian yang berkunjung ke Kampung Naga.

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengutip seutas kalimat indah tentang budaya yang di utarakan oleh pak Kuncen disela-sela ceramahnya.
“ Budaya harus dijaga, dirawat dan diterapkan dalam kehidupan. Budaya bukanlah tontonan melainkan tuntunan.”

Sekian dulu Sobat yaaa..
Semoga bermanfaat…………

  1. Dawniez Dawniez

    Keren safwannn 🤗🤗👌👍

    • riccosafiira riccosafiira

      makasih kak Dawnizz.. sebagai kenangan, indahnya kebersamaan….
      atur jadwal selanjutnya.. kmn lagi..???

Please Leave a Reply / Comment

%d bloggers like this: