Press "Enter" to skip to content

Status Gizi 1000 HPK Menjadi Pondasi Di Usia Dewasa

0
  1. Peran Penting Gizi di Awal Kehidupan

Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Dalam menciptakan SDM yang berkualitas, tidak terlepas dari peran gizi. Gizi yang baik sangat diperlukan dalam hal perkembangan otak dan pertumbuhan fisik yang baik. Untuk memperoleh hal tersebut maka keadaan gizi seseorang perlu ditata sejak dini terutama pada masa kehamilan hingga bayi berusia 2 tahun atau yang dikenal dengan 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) (Desiansi, 2016).

Gizi dan kesehatan anak mulai ditentukan dalam 1000 hari pertama kehidupannya, yaitu dimulai sejak terjadinya kehamilan. Selain itu, kondisi kesehatan dan gizi orang tua, terutama ibu sebelum dan selama hamil turut menentukan kesehatan anak di masa depan. Jika tidak ditangani selama rentang masa tersebut, masalah gizi dan kesehatan anak akan memberikan dampak negatif pada usia selanjutnya. Menurut Endang, dkk. (2012) periode perkembangan janin di dalam kandungan dan selama dua tahun pertama kehidupan berpengaruh terhadap berbagai aspek kualitas sumber daya manusia. Tidak semata-mata mencakup kualitas fisik, tetapi juga kualitas kognitif dan risiko terhadap kejadian penyakit kronis.

Masa 1000 HPK yaitu 270 hari selama kehamilannya dan 730 hari pada kehidupan pertama bayi yang dilahirkannya, merupakan periode sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi. Dampak tersebut tidak hanya pada pertumbuhan fisik, tetapi juga pada perkembangan mental dan kecerdasannya, yang pada usia dewasa terlihat dari ukuran fisik yang tidak optimal serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi (Republik Indonesia, 2013).

Masa 1000 HPK merupakan masa paling kritis untuk memperbaiki perkembangan fisik dan kognitif anak. Status gizi ibu hamil dan gizi ibu menyusui, status kesehatan dan asupan gizi yang baik merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik dan kognitif anak, menurunkan risiko kesakitan pada bayi dan ibu. Ibu hamil dengan status gizi kurang akan menyebabkan gangguan pertumbuhan janin, penyebab utama terjadinya bayi pendek (stunting) dan meningkatkan risiko obesitas dan penyakit degeneratif pada masa dewasa (Rahmawati, 2016)

Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia. Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak di periode selanjutnya. Indeks beratnya masalah gizi balita menurut World Healty Organization (WHO) didasarkan pada masalah gizi buruk, wasting dan stunting yang ditemukan pada suatu wilayah survey. Prevalensi wasting (kurus) dikatakan tinggi bila diatas 10-14% dan sangat tinggi bila ≥ 15%, dan prevalensi stunting (pendek) dikatakan tinggi bila diatas 30-39% dan  ≥ 40%. Pada tahun 2013, secara nasional prevalensi kurus pada anak balita masih 12,1%, yang artinya masalah kurus di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius (Riskesdas, 2013).

Oleh karena itu, perlu dilakukan intervensi sejak dini untuk mencegah  terjadinya defisiensi gizi pada masa-masa awal kehidupan terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) karena gizi yang didapat janin dari ibunya dan gizi pada 2 tahun pertama serta apapun yang terjadi pada masa ini bakal menjadi pondasi kesehatan serta memengaruhi kehidupannya kelak ketika dewasa (Himansyah, 2016).

  1. Faktor Penyebab Masalah Gizi pada 1000 HPK

Dalam kerangka kebijakan gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (2013) dijelaskan bahwa masalah gizi merupakan akibat dari berbagai faktor yang saling terkait. Terdapat dua faktor langsung yang mempengaruhi status gizi individu, yaitu faktor makanan dan penyakit infeksi, keduanya saling mempengaruhi. Faktor penyebab langsung pertama adalah konsumsi makanan yang tidak memenuhi jumlah dan komposisi zat gizi yang memenuhi syarat gizi seimbang yaitu beragam, sesuai kebutuhan, bersih, dan aman, misalnya bayi tidak memperoleh ASI Eksklusif.

Baca juga  4 Pilar Gizi Seimbang

Sedangkan faktor penyebab langsung kedua adalah penyakit infeksi yang berkaitan dengan tingginya kejadian penyakit menular terutama diare, cacingan dan penyakit pernapasan akut (ISPA). Faktor ini banyak terkait mutu pelayanan kesehatan dasar khususnya imunisasi, kualitas lingkungan hidup dan perilaku hidup sehat. Kualitas lingkungan hidup terutama adalah ketersediaan air bersih, sarana sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat seperti kebiasaan cuci tangan dengan sabun, buang air besar di jamban, tidak merokok, sirkulasi udara dalam rumah dan sebagainya.

Faktor lain yang juga berpengaruh yaitu ketersediaan pangan di keluarga, khususnya pangan untuk bayi 0-6 bulan (ASI Eksklusif) dan 6-23 bulan (MP-ASI), dan pangan yang bergizi seimbang khususnya bagi ibu hamil. Semuanya itu terkait pada kualitas pola asuh anak. Pola asuh, sanitasi lingkungan, akses pangan keluarga, dan pelayanan kesehatan, dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pendapatan, dan akses informasi terutama tentang gizi dan kesehatan.

  1. Dampak Akibat Gangguan Gizi Pada Masa Janin dan Usia Dini

Dampak yang dapat ditimbulkan oleh gangguan gizi pada masa janin dan usia dini dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Sedangkan dalam jangka panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua, serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi (Endang, 2014 dan Riccosafiira, 2017).

Menurut Endang, dkk, (2012) dampak dari defisiensi gizi dapat mempengaruhi perkembangan mental anak. Anak yang kurang gizi mengalami penurunan interaksi dengan lingkungannya dan keadaan ini akan menimbulkan perkembangan anak yang buruk. Kekurangan gizi pada balita juga dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan fisik dan perkembangan mental serta kecerdasan, bahkan dapat menjadi penyebab kematian.

Zulkarnain (2016) juga mengemukan bahwa malnutrisi selama kehamilan dapat mengakibatkan dampak buruk pada pertumbuhan yang sehat dan perkembangan anak. Bayi yang kekurangan gizi dalam kandungan memiliki risiko lebih tinggi untuk meninggal pada masa bayi dan memiliki kemungkinan lebih besar mengalami untuk menghadapi defisit kognitif dan fisik dalam hidupnya serta masalah kesehatan kronis. Sedangkan untuk anak dibawah usia 2 tahun, malnutrisi dapat mengancam jiwa. Kekurangan gizi dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh anak dan membuat anak lebih rentan terhadap kematian akibat berbagai penyakit seperti pneumonia, diare dan malaria.

  1. Sukseskan Gerakan 1000 HPK

Tujuan dari fokus pada peningkatan gizi bagi ibu dan anak-anak dalam jendela kritis 1000 hari pertama kehidupan ini adalah untuk menjamin kehidupan yang sehat dan produktif dari anak dan juga memutus siklus kemiskinan. Ilmuwan terkemuka, para ekonom dan ahli kesehatan sepakat bahwa perbaikan gizi selama rentang waktu tersebut adalah salah satu investasi terbaik untuk mencapai kemajuan dalam kesehatan global dan pengembangan (Zulkarnain, 2016).

Baca juga  10 Pesan Umum Gizi Seimbang

Untuk mengatasi permasalahan gizi ini, pada tahun 2010 PBB telah meluncurkan program Scalling Up Nutrition (SUN) yaitu sebuah upaya bersama dari pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan visi bebas rawan pangan dan kurang gizi (zero hunger and malnutrition), melalui penguatan kesadaran dan komitmen untuk menjamin akses masyarakat terhadap makanan yang bergizi. (Hadiat, 2013 dalam Bunga, dkk. 2016).

Fokus dari gerakan SUN adalah mempromosikan implementasi dari intervensi gizi yang berbasis bukti serta mengintegrasikan tujuan gizi ke dalam upaya lebih luas di sektor-sektor kritis seperti kesehatan, perlindungan sosial, pembangunan dan pertanian. Kepemimpinan di tingkat nasional memastikan bahwa prioritas dan program yang dirancang dan dilaksanakan dengan cara yang memenuhi kebutuhan berbagai daerah dan populasi di dalam negeri dan memungkinkan peningkatan skala dari upaya berkelanjutan. Indonesia telah bergabung dengan gerakan SUN sejak Desember 2011 dan menjadi salah satu dari 56 negara yang bergabung dalam gerakan ini (Zulkarnain, 2016).

Pada tahun 2012, Pemerintah Republik Indonesia telah mencanangkan kerangka kebijakan dan pedoman perencanaan program gerakan nasional sadar gizi dalam rangka 1000 hari pertama kehidupan. Pada tahun berikutnya, Presiden Indonesia saat itu (Susilo Bambang Yudhoyono) juga mengeluarkan Peraturan Persiden No. 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi yang menjadi landasan hukum gerakan tersebut di Indonesia (Zulkarnain, 2016 dan Hadiat, 2013 dalam Bunga, dkk. 2016).

Dalam kerangka kebijakan gerakan 1000 hari pertama kehidupan (2013) terdapat 2 jenis intervensi dalam Gerakan 1000 HPK, yaitu: intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Intervensi gizi spesifik adalah tindakan atau kegiatan yang dalam perencanaannya ditujukan khusus untuk kelompok 1000 HPK. Kegiatan ini pada umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan, seperti imunisasi, PMT ibu hamil dan balita, monitoring pertumbuhan balita di Posyandu, suplemen tablet besi-folat ibu hamil, promosi ASI Eksklusif, MP-ASI dan sebagainya. Intervensi gizi spesifik bersifat jangka pendek, hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif pendek.

Sedang intervensi gizi sensitif adalah berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan. Sasarannya adalah masyarakat umum, tidak khusus untuk 1000 HPK. Namun apabila dipadukan kedua intervensi tersebut akan sangat berdapak positif  terhadap keselamatan proses pertumbuhan dan perkembangan 1000 HPK. Dampak kombinasi dari kegiatan spesifik dan sensitif bersifat langgeng (sustainable) dan jangka panjang. Beberapa kegiatan intervensi sensitif tersebut adalah penyediaan air bersih, sarana sanitasi, berbagai penanggulangan kemiskinan, ketahanan pangan dan gizi, fortifikasi pangan, pendidikan dan KIE Gizi, pendidikan dan KIE Kesehatan, kesetaraan gender, dan lain-lain.

Zulkarnain (2016) mengemukakan bukti menunjukkan bahwa nutrisi yang tepat selama 1000 HPK dapat menyelamatkan lebih dari sejuta jiwa per tahun, menurunkan beban manusia dan ekonomi secara signifikan akibat berbagai penyakit (seperti TBC, Malaria dan HIV/AIDS), mengurangi risiko berkembangnya berbagai penyakit tidak menular (seperti diabetes dan berbagai penyakit kronis lainnya dalam kehidupan), memperbaiki pencapaian pendidikan dan potensi pendapatan individu serta dapat meningkatkan GDP (Gross Domestic Product) suatu negara setidaknya sebesar 2-3% per tahun.

  1. Kiat Mempersiapkan 1000 HPK

Hilmansyah (2016) mengutarakan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar di masa 1000 HPK dapat dimanfaatkan dengan baik, yaitu:

  1. Periode dalam kandungan (280 hari)
  • Pastikan ibu hamil memiliki status gizi yang baik dan seimbang, tidak mengalami KEK (kurang energi kronis) dan anemia.
  • Selama hamil, ibu disarankan mengonsumsi makanan yang bergizi sesuai dengan kebutuhan, makanan dengan porsi kecil namun sering dapat dianjurkan dengan memperbanyak konsumsi sayur dan buah buahan.
  • Perlu suplemen tambah besi (Fe), asam folat dan vitamin C dibutuhkan untuk mencegah terjadinya anemia.
  • Ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.
  • Memasuki usia kehamilan trimester tiga, calon ibu dan calon ayah mempersiapkan informasi mengenai menyusui, agar saat melahirkan nanti dapat memberikan IMD dan ASI Eksklusif untuk bayinya.
Baca juga  STUNTING ; Umur Anak Sama, Kenapa Tinggi Badan Berbeda??

  1. Periode 0-6 bulan (180 hari)
  • Pastikan bayi lahir mendapatkan Inisiasi Menyusui Dini (IMD).
  • Pastikan bayi mendapatkan ASI eksklusif.
  • Bila ada masalah pemberian ASI eksklusif, segera hubungi petugas konsultasi ASI.
  • Pantau pertumbuhan bayi secara teratur.
  1. Periode 6-24 bulan (540 hari)
  • Memastikan bahwa ibu mengetahui jenis dan bentuk makanan serta frekuensi pemberian makanan untuk bayi.
  • Ibu perlu belajar pemberian makanan pada bayi di masa transisi. Makanan lumat atau cair pada usia 6-8 bulan, lembek lunak/semi pada usia 8-12 bulan, dan makanan padat pada usia 12-24 bulan.
  • Pastikan ibu mengetahui jenis, bentuk dan frekuensi memberi makanan pendamping ASI.
  • Cari informasi sebanyak mungkin tentang bahan makanan yang bergizi untuk MP-ASI.
  • Ibu harus didukung untuk tetap memberikan ASI.
  • Pantau pertumbuhan si kecil secara teratur.

 

Referensi

  • Bunga Ch Rosha, Kencana Sari, Indri Yunita SP, Nurilah Amaliah, NH Utami. 2016. Peran Intervensi Gizi Spesifik dan Sensitif dalam Perbaikan Masalah Gizi Balita di Kota Bogor. Buletin Penelitian Kesehatan, Vol. 44, No. 2, Juni 2016 : 127 – 138.
  • Desiansi Merlinda Niga. Windhu Purnomo. 2016. Hubungan Antara Praktik Pemberian Makan, Perawatan Kesehatan, dan Kebersihan Anak Dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia 1-2 Tahun Di Wilayah Kerja Puskesmas Oebobo Kota Kupang. Jurnal Wiyata, Vol. 3 No. 2 Tahun 2016.
  • Endang L. Achadi, Kusharisupeni,  Atmarita, dan Rachmi Untoro. 2012. Status Gizi Ibu Hamil dan Penyakit Tidak Menular pada Dewasa. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7, No. 4, November 2012.
  • Endang L. Achadi. 2014. Periode Kritis 1000 Hari Pertama Kehidupan dan Dampak Jangka Panjang terhadap Kesehatan dan Fungsinya. Makalah, disampaikan pada: “Kursus Penyegar Ilmu Gizi”, diselenggarakan oleh PERSAGI, di Yogyakarta, 25 November 2014.
  • Hilmansyah, Hilman. 2016. Kiat Mempersiapkan 1000 HPK. Food for Kid Indonesia Edisi 1 Januari Vol 4 2016.
  • Presiden Republik Indonesia. 2013. Peraturan Persiden No. 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi. Jakarta: Presiden Republik Indonesia.
  • Rahmawati, Widya. Nia Novita Wirawan, Catur Saptaning Wilujeng,…. Dwi Indiah Ventyaningsih. 2016. Gambaran Masalah Gizi pada 1000 HPK di Kota dan Kabupaten Malang, Indonesia. Indonesian Journal of Human Nutrition, Juni 2016, Vol.3 No.1 Suplemen : 20 – 31.
  • Republik Indonesia. 2013. Kerangka Kebijakan Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan. Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat RI.
  • 2017. Stunting; Umur Anak Sama, Kenapa Tinggi Badan Berbeda?? (online). Diakses 15 Februari 2017 dari: https://airmengalir.com/stunting/
  • 2013. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia Tahun 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.
  • Zulkarnain, Mirza Rizqi. 2016. Yuk, Sukseskan Gerakan 1000 HPK. Food for Kid Indonesia Edisi 1 Januari Vol 4 2016.

 

Please Leave a Reply / Comment

Translate »