Press "Enter" to skip to content

Seberapa Jauh Kita Mengetahui Tentang Imunisasi..??

Safwan Sy 0

PENGERTIAN IMUNISASI

Imunisasi berasal dari kata imun, kebal atau resisten. Anak diimunisasi, berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal atau resisten terhadap suatu penyakit tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain.

Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga apabila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.

PENGERTIAN VAKSIN

Vaksin adalah antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati, masih hidup tapi dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, yang telah diolah, berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid, protein rekombinan yang apabila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit infeksi tertentu.

SISTEM KEKEBALAN

Sistem kekebalan adalah suatu sistem yang rumit dari interaksi sel yang tujuan utamanya adalah mengenali adanya antigen. Antigen dapat berupa virus atau bakteri yang hidup atau yang sudah diinaktifkan. Jenis kekebalan terbagi menjadi 2 (dua) macam yaitu kekebalan aktif dan kekebalan pasif.

1.  Kekebalan Aktif
Kekebalan atau Perlindungan yang dihasilkan oleh sistem kekebalan seseorang sendiri dan menetap seumur hidup.

  1. Aktif Alamiah
    Kekebalan yang didapatkan ketika seseorang menderita suatu penyakit.
  2. Aktif Buatan
    Kekebalan yang didapatkan dari pemberian vaksinasi.

2.  Kekebalan pasif
Kekebalan atau perlindungan yang diperoleh dari luar tubuh bukan dibuat oleh tubuh itu sendiri.

  1. Pasif Alamiah
    Kekebalan yang didapat dari ibu melalui plasenta saat masih berada dalam kandungan.
    Kekebalan yang diperoleh dengan pemberian air susu pertama (colostrom).
  2. Pasif Buatan 
    Kekebalan yang diperoleh dengan cara menyuntikkan antibodi yang diekstrak dari satu individu ke tubuh orang lain sebagai serum.
    Contoh: pemberian serum antibisa ular kepada orang yang dipatuk ular berbisa.

TUJUAN PEMBERIAN IMUNISASI

Menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan akibat Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I).

Baca juga :   Apa Itu Penyakit Campak ?

Ada banyak penyakit menular di Indonesia yang dapat dicegah dengan imunisasi atau disebut dengan PD3I diantaranya yaitu: difteri, pertusis, tetanus, tuberculosis (TBC), campak, rubella, poliomyelitis, hepatitis-A, hepatitis-B, hemofilus influenza tipe b (Hib), HPV (Human Papilloma Virus), Yellow Fever (demam kuning), meningitis, rabies, varisela dan influenza.

PENYELENGGARAAN IMUNISASI

Pihak yang dapat melaksanakan pelayanan imunisasi adalah pemerintah, swasta, dan masyarakat, dengan mempertahankan prinsip keterpaduan antara pihak terkait. Penyelenggaraan imunisasi adalah serangkaian kegiatan perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi kegiatan imunisasi.

SASARAN IMUNISASI

  1. Sasaran imunisasi rutin
  • Bayi pada imunisasi dasar
  • Anak sekolah pada imunisasi lanjutan
  • Wanita Usia Subur (WUS) pada imunisasi lanjutan
  1. Sasaran imunisasi tambahan
    Sasaran imunisasi tambahan adalah kelompok risiko (golongan umur) yang paling berisiko terkenanya kasus
  1. Sasaran imunisasi khusus
    Sasaran imunisasi khusus ditetapkan dengan keputusan tersendiri (misalnya: jemaah haji, masyarakat yang akan pergi ke negara tertentu).

JENIS DAN JADWAL IMUNISASI

IMUNISASI WAJIB

1. Imunisasi rutin

a. Imunisasi dasar

Tabel 1. Jadwal pemberian imunisasi dasar

Umur Jenis Imunisasi
0 – 7 hari Hepatitis B
1 bulan BCG,   Polio 1
2 bulan DPT-HB-Hib 1, Polio 2
3 bulan DPT-HB-Hib 2, Polio 3
4 bulan DPT-HB-Hib 3, Polio 4
9 bulan Campak

b. Imunisasi lanjutan

Tabel 2. jadwal imunisasi lanjutan pada anak bawah 3 tahun

Umur Jenis Imunisasi
18 bulan DPT-HB-Hib
24 bulan Campak

Tabel 3. Jadwal imunisasi lanjutan pada anak usia sekolah dasar

Umur Jenis Imunisasi Waktu Pelaksanaan
Kelas 1 SD Campak

DT

Agustus

November

Kelas 2 SD Td November
Kelas 3 SD Td November

Tabel 4. Imunisasi Lanjutan Pada Wanita Usia Subur (WUS)

Status Imunisasi (TT)
Interval Minimal Pemberian Masa Perlindungan
T1
T2 4 minggu setelah T1 3 tahun
T3 6 bulan setelah T2 5 tahun
T4 1 tahun setelah T3 10 tahun
T5 1 tahun setelah T4 lebih dari 25 tahun

2. Imunisasi tambahan

  • Backlog fighting
  • Crash program
  • PIN (Pekan Imunisasi Nasional)
  • Sub PIN
  • Catch up Campaign campak
  • Imunisasi dalam Penanganan KLB (Outbreak Response Immunization/ORI)

3. Imunisasi khusus

  • Imunisasi Meningitis Meningokokus
  • Imunisasi Yellow Fever (Demam Kuning)
  • Imunisasi Rabies

IMUNISASI PILIHAN

  1. Vaksin Measles, Mumps, Rubella
  2. Haemophilllus influenzae tipe b (Hib)
  3. Vaksin tifoid (vaksin tifoid oral dan vaksin tifoid polisakarida parenteral)
  4. Vaksin Varisela
  5. Vaksin Hepatitis A
  6. Vaksin Influenza
  7. Vaksin Pneumokokus (vaksin pneumokokus polisakarida dan vaksin pneumokokus polisakarida konyugasi)
  8. Vaksin Rotavirus
  9. Vaksin Japanese Ensephalitis
  10. Human Papiloma Virus (HPV)

skema jenis imunisasi

PENYIMPANAN VAKSIN

  1. Kamar dingin dan kamar beku

Kamar dingin (cold room) adalah sebuah tempat penyimpanan vaksin yang mempunyai kapasitas (volume) mulai 5.000 liter (5 M3) sampai dengan 100.000 liter (100 M3). Suhu bagian dalamnya mempunyai kisaran antara +2oC s/d +8oC. Kamar dingin ini berfungsi untuk menyimpan vaksin BCG, campak, DPT, TT, DT, hepatitis B dan DPT-HB.

Kamar beku (freeze room) adalah sebuah tempat penyimpanan vaksin yang mempunyai kapasitas (volume) mulai 5.000 liter (5 M3) sampai dengan 100.000 liter (100 M3), suhu bagian dalamnya mempunyai kisaran antara -15oC s/d -25oC. Kamar beku utamanya berfungsi untuk menyimpan vaksin polio.

  1. Lemari es dan freezer

Lemari es adalah tempat menyimpan vaksin BCG, Td, TT, DT, hepatitis B, Campak dan DPT-HB-Hib, pada suhu yang ditentukan +2 0C s.d. +8 0C dapat juga difungsikan untuk membuat kotak dingin cair (cool pack).

Freezer adalah untuk menyimpan vaksin polio pada suhu yang ditentukan antara – 5oC s/d -25oC atau membuat kotak es beku (cold pack).

KEJADIAN IKUTAN PASCA-IMUNISASI (KIPI)

Reaksi simpang dikenal pula dengan istilah Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) atau Adverse Event Following Immunization (AEFI). KIPI adalah kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi baik berupa reaksi vaksin, reaksi suntikan, efek farmakologis, kesalahan prosedur, koinsiden atau hubungan kausal yang tidak dapat ditentukan.

KIPI serius merupakan kejadian medis setelah imunisasi yang tidak diinginkan yang menyebabkan rawat inap atau perpanjangan rawat inap, kecacatan yang menetap atau signifikan dan kematian, serta menimbulkan keresahan di masyarakat.

Risiko KIPI selalu ada pada setiap tindakan imunisasi. Untuk kasus KIPI dengan reaksi yang ringan, seperti reaksi lokal, demam, dan gejala-gejala sistemis yang dapat sembuh sendiri, tidak perlu dilaporkan. Reaksi lokal yang berat (seperti pembengkakan hingga ke sendi yang paling dekat; nyeri; kemerahan pembengkakan lebih dari 3 hari; atau membutuhkan perawatan di rumah sakit), terutama jika ditemukan kasus berkelompok sebaiknya dilaporkan.

Kejadian reaksi lokal yang mengalami peningkatan frekuensi, walaupun tidak berat, juga sebaiknya dilaporkan. Kasus ini bisa menjadi pertanda kesalahan program atau menjadi masalah untuk batch vaksin tertentu. Jika ada keraguan apakah suatu kasus harus dilaporkan atau tidak, sebaiknya dilaporkan, agar mendapat umpan balik positif apabila kasus tersebut dilaporkan.

PERKEMBANGAN IMUNISASI DI INDONESIA

Tabel 5. Perkembangan Imunisasi di Indonesia

Tahun Perkembangan Imunisasi
1956 Imunisasi cacar
1973 Imunisasi BCG
1974 Imunisasi TT pada ibu hamil
1976 WHO mulai pelaksana program imunisasi sebagai upaya global (EPI-Expanded Programon Immunization)
1980 Imunisasi polio
1982 Imunisasi campak
1990 Indonesia mencapai UCI Nasional
1997 Imunisasi Hepatitis B
2004 Introduksi DPT-Hb
2007 DPT/Hb di seluruh Indonesia
2007 Pilot Project IPV (Inactive Polio Vaccine) di Provinsi DIY
2010 Imunisasi Td & BIAS Kelas 1 & 2 Penanggulangan KLB Difteri
2013 Introduksi vaksin DPT, HB, Hib (pentavalen) di empat propinsi (DIY, Jawa Barat, Bali, NTB)
2014 Introduksi vaksin DPT, HB, Hib (pentavalen) di seluruh provinsi
2017 Introduksi vaksin MR (campak/ Measles dan Rubella) di seluruh Indonesia

Catatan:
DT   =  Difteri Tetanus
Td   =  Tetanus Difteri
BCG  =  Bacillus Calmette Guerin ( vaksin untuk tuberculosis)
DPT-HB-Hib  =  Difteri Pertusis Tetanus – Hepatitis B – Haemophilus Influenzae tipe b

Silahkan Saudara baca juga tentang:
FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI) TENTANG IMUNISASI

 

REFERENSI

  • Menkes RI. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Imunisasi. Jakarta: Menkes RI.
  • Kemenkes RI. 2015. Buku Ajar Imunisasi. Jakarta: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan

 

Please Leave a Reply / Comment