Press "Enter" to skip to content

Sembuhkan Diri Anda dari Dalih Penyakit Kegagalan

Safwan Sy 0

Perdalamlah studi Anda mengenai manusia, dan Anda akan menemukan bahwa orang yang tidak sukses menderita penyakit pikiran yang mematikan pikiran. Kita menyebutkan penyakit ini penyakit dalih atau penyakit kegagalan.

Setiap orang gagal mengidap penyakit ini dalam tahap lanjut, dan kebanyakan orang rata-rata pernah setidaknya mengalami serangan ringan penyakit ini.

Anda akan mendapatkan bahwa dalih menjelaskan perbedaan antara orang yang mengalami kemajuan dan orang yang tidak. Anda mendapatkan bahwa semakin berhasil orang bersangkutan semakin kurang cenderung ia membuat dalih.

Orang yang tidak pernah ke mana-mana, dan tidak mempunyai rencana untuk tiba di suatu tempat selalu mempunyai setumpuk dalih untuk menjelaskan mengapa. Orang dengan prestasi sedang-sedang saja cepat sekali menjelaskan mengapa mereka belum berhasil, mengapa mereka tidak berhasil dan mengapa mereka bukan orang yang berhasil.

Pelajari kehidupan orang yang sukses maka Anda akan menemukan kebenaran ini. Bahwa semua dalih yang dibuat oleh orang yang sedang-sedang saja boleh jadi ada, tetapi tidak dibuat oleh orang yang sukses.

Empat Bentuk Dalih yang Paling Lazim
(Dalih Kesehatan, Dalih Inteligensi, Dalih Usia dan Dalih Nasib)

DALIH KESEHATAN

Tetapi Kesehatan Saya Buruk

Dalih kesehatan berkisar dari “Saya merasa tidak enak badan,” hingga yang lebih spesifik “Ada yang tidak beres dengan diri saya.”

Kesehatan yang buruk di dalam ribuan bentuknya yang berbeda,  digunakan sebagai dalih untuk kegagalan melakukan apa yang seseorang ingin lakukan, kegagalan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar, kegagalan untuk menghasilkan uang lebih banyak dan kegagalan untuk mencapai keberhasilan.

Jutaan orang menderita dalih penyakit kegagalan. Namun, dalam kebanyakan kasus, apakah ini merupakan dalih yang sah..? Pikirkan sejenak tentang semua orang yang sangat berhasil yang Anda kenal yang dapat —tetapi tidak mau— menggunakan kesehatan sebagai dalih.

Teman-teman saya yang menjadi dokter atau ahli bedah mengatakan kepada saya bahwa tidak ada orang yang memiliki kesehatan sempurna. Ada sesuatu yang kurang beres pada fisik semua orang. Banyak yang menyerah sepenuhnya atau sebagian kepada dalih kesehatan, tetapi orang berpikiran sukses tidak demikian.

Baca juga :   Rp. 20.000,- Perjam ; Permintaan Anak Perempuan Kecil kepada Ayahnya

Empat Hal yang Dapat Anda Lakukan untuk Menaklukkan Dalih Kesehatan

Vaksin terbaik untuk mencegah dalih kesehatan terdiri atas empat dosis:

  1. Jangan berbicara tentang kesehatan Anda

Semakin Anda berbicara mengenai suatu penyakit, bahkan cuma pilek, semakin buruk tampaknya penyakit itu. Berbicar tentang kesehatan Anda adalah kebiasaan yang buruk. Kebiasaan ini membuat Anda tampak egosentris dan nyinnyir. Orang yang berpikir sukses yang berpikir sukses mengalahkan kecenderungan alami untuk berbicara tentang kesehatan mereka yang buruk.

  1. Jangan khawatir tentang kesehatan Anda

Dr. Walter Alvares, pensiunan konsultan untuk Mayo Linic yang terkenal di dunia, belum lama ini menulis: “saya selalu meminta kepada orang-orang yang suka cemas untuk melatih kendali diri. Sebagai contoh , saya meminta ratusan orang yang khawatir mengenai jantung mereka untuk berhenti menjalani elektrokardiogram.”

  1. Bersyukurlah secara tulus bahwa kesehatan Anda baik sebagaimana adanya

Dari pada mengeluh tentang “perasaan tidak enak badan” jauh lebih baik bersyukur bahwa Anda sehat sebagaimana adanya sekarang. Hanya dengan bersyukur akan kesehatan yang Anda miliki merupakan vaksinasi yang manjur terhadap berkembangnya penyakit baru dan penyakit yang sesungguhnya.

  1. Sering-sering ingatkan diri Anda

“Jauh lebih baik letih karena bekerja daripada letih karena menganggur.” Hidup adalah untuk dinikmati. Jangan disia-siakan. Jangan melewatkan hidup dengan berpikir diri Anda akan berbaring di ranjang rumah sakit.

 

DALIH INTELIGENSI

Tetapi Anda Harus Mempunyai Otak yang Cerdas untuk Berhasil

Dalih inteligensi atau “Saya kurang cerdas” adalah lazim. Kebanyakan dari kita membuat dua kesalahan dasar sehubungan dengan inteligensi:

  1. Kita meremehkan kekuatan otak kita
  2. Kita terlalu menganggap hebat kekuatan otak orang lain

Karena kedua kesalahan ini, banyak orang sering merendahkan diri mereka sendiri. Mereka gagal menghadapi situasi yang menantang karena merasa bahwa untuk itu “diperlukan otak yang cerdas.” Akan tetapi, kemudian datanglah orang yang tidak peduli mengenai inteligensi dan ia mendapatkan pekerjaan itu.

Yang penting sebenarnya bukankah berapa banyak inteligensi yang Anda miliki, tetapi bagaimana Anda menggunakan apa yang benar-benar Anda punyai. Pikiran yang memandu inteligensi Anda jauh lebih penting daripada berapa banyak inteligensi yang mungkin Anda punyai.

Dengan sikap yang positif, optimisme dan kooperatif seseorang dengan IQ 100 akan berpenghasilan lebih besar, mendapatkan respek lebih besar dan mempunyai keberhasilan lebih besar dibandingkan orang yang negatif, pesimisme dan tidak kooperatif dengan IQ di atas 120.

Ketekunan adalah 95 persen dari kemampuan.

Jika Anda mempunyai cukup ketekunan untuk bertahan pada sesuatu tugas atau proyek hingga selesai, maka Anda jauh lebih baik daripada orang yang memiliki inteligensi yang menganggur, sekali pun inteligensi itu mungkin mendekati genius.

Baca juga :   5 Senjata Bunuh Diri dari Keberhasilan

Tiga Cara untuk Menyembuhkan Dalih Inteligensi

  1. Jangan meremehkan inteligensi Anda sendiri dan menganggap terlalu tinggi inteligensi orang lain.

Berkonsentrasilah pada apa yang Anda miliki. Temukan bakat unggul Anda. Ingat, bukan berapa banyak inteligensi yang Anda miliki yang penting, melainkan bagaimana Anda menggunakan otak Anda. Memanajemenilah otak Anda daripada khawatir terhadap IQ Anda.

  1. Ingatkan diri Anda beberapa kali setiap hari

“Sikap saya lebih penting daripada inteligensi saya.” Di tempat kerja dan di rumah, praktikkan sikap positif. Lihat alasan mengapa Anda dapat melakukannya, bukan alasan mengapa Anda tidak dapat. Kembangkan sikap “Saya menang.” Manfaatkan inteligensi Anda untuk pemakaian positif yang kreatif. Gunakan otak Anda untuk mencari cara-cara untuk menang, bukan membuktikan bahwa Anda akan kalah.

  1. Ingat bahwa kemampuan berpikir jauh lebih bernilai daripada kemampuan mengingat fakta

Gunakan pikiran Anda untuk menciptakan dan mengembangkan gagasan, untuk mencari cara-cara baru dan lebih baik untuk mengerjakan segala sesuatunya. Tanya diri Anda sendiri “Apakah saya menggunakan kemampuan mental saya untuk membuat sejarah atau apakah saya menggunakannya hanya untuk merekam sejarah yang dibuat oleh orang lain?”

 

DALIH USIA

Tidak Ada Gunanya. Saya Terlalu Tua (Terlalu Muda)

Dalih usia, penyakit kegagalan karena tidak pernah merasa berada pada usia yang tepat, muncul dalam dua bentuk yang mudah dikenali: varisasi “Saya terlalu tua” dan “Saya terlalu muda.”

Anda pernah mendengar ratusan orang dari segala usia menjelaskan prestasi mereka yang sedang-sedang saja dalam hidup. Mereka lebih kurang seperti ini: “Saya terlalu tua (atau saya terlalu muda) untuk melakukan terobosan sekarang ini. Saya tidak dapat mengerjakan apa yang ingin saya kerjakan, atau saya tidak mampu mengerjakan karena rintangan usia.”

Mengherankan sekali dan patut disayangkan bahwa hanya sedikit orang yang merasa bahwa mereka berada dalam usia yang cocok. Dalih ini menutup pintu bagi peluang yang sebenarnya bagi ribuan orang. Mereka mengira usia mereka salah, sehingga mereka bahkan tidak berniat untuk mencoba.

Variasi “Saya terlalu tua” adalah bentuk yang paling lazim dari dalih usia. Penyakit ini menyebar dengan cara yang samar.

 Tiga Obat untuk Dalih Usia Secara Ringkas

  1. Lihat usia Anda yang sekarang secara positif

Berpikirlah “Saya masih muda” bukan “Saya sudah tua.” Berlatihlah memandang ke depan ke cakrawala baru, dan dapatkan antusiasme serta perasaan muda.

  1. Hitung berapa banyak waktu produktif yang masih anda miliki

Ingat, tahun-tahun produktif manusia terentang dari usia 20 hingga 70 tahun. Jadi usia 30 tahun berarti masih ada 80 persen kehidupan produktif yang dimiliki. Hidup sebenarnya lebih panjang daripada yang kebanyakan orang duga.

  1. Investasi waktu masa depan dalam mengerjakan apa yang benar-benar ingin Anda kerjakan

Berhentilah berpikir “Saya seharusnya memulai bertahun-tahun yang lalu.” Itu adalah pikiran gagal. Sebagai gantinya berpikirlah “Saya akan memulai sekarang, tahun-tahun terbaik yang menanti di depan saya.” Itulah cara orang sukses berpikir.

Baca juga :   Pelajaran untuk Tak Gampang Menyerah Seharga Limapuluh Sen

 

DALIH NASIB

Tetapi Kasus Saya lain; Saya Memiliki Nasib Buruk

Ada sebab untuk segalanya, tidak ada yang terjadi tanpa sebab. Tidak ada yang kebetulan mengenai kesuksesan sekarang ini. Ini adalah akibat dari sebab yang spesifik. Dan tidak ada alasan untuk percaya bahwa urusan manusia merupakan pengecualian.

Namun, hampir tidak ada hari yang berlalu tanpa Anda mendengar seseorang menimpakan kesalahan pada nasib buruk. Dan jarang sekali Anda tidak mendengar seseorang menghubungkan keberhasilan orang lain dengan nasib baik.

Seandainya dalih nasib digunakan untuk mereorganisasi bisnis, maka semua perusahaan di negara ini akan berantakan. Asumsikan sejenak bahwa sebuah perusahaan dagang yang besar diharapkan melakukan reorganisasi sepenuhnya berdasarkan dalih nasib. Untuk melakukan reorganisasi tersebut, nama-nama semua karyawan akan dimasukkan ke dalam sebuah kotak. Nama yang keluar akan menjadi direktur pengelola, kedua wakilnya, dan seterusnya hingga pesuruh kantor. Nah, kedengarannya bodoh, bukan..?

Orang yang naik hingga ke puncak di dalam pekerjaan apa pun —manajemen bisnis, penjualan, hukum, rekayasa, akting, atau apa saja— tiba di sana karena mempunyia sikap yang unggul dan menggunakan pikiran sehat mereka dalam kerja keras.

Taklukkan Dalih Nasib dengan Dua Cara

  1. Terimalah hukum sebab-akibat

Perhatikan kembali apa yang tampaknya sebagai “nasib baik” seseorang. Anda tidak akan menemukan nasib baik, melainkan persiapan, perencanaan dan pikiran penghasil sukses yang mengawali “keberuntungannya.” Perhatikan kembali apa yang tampaknya merupakan “nasib buruk” seseorang. Lihat, dan anda akan menemukan alasan spesifik tertentu.

  1. Jangan menjadi orang yang suka berangan-angan kosong

Jangan boroskan energi mental Anda untuk memimpikan cara-cara tanpa usaha untuk mendapatkan keberhasilan. Kita tidak menjadi berhasil hanya melalui nasib baik. Keberhasilan datang dari pelaksanaan hal-hal dan penguasaan prinsip-prinsip yang menghasilkan keberhasilan. Jangan mengandalkan nasib baik untuk mendapatkan promosi, kemenangan, hal-hal yang baik dalam hidup ini. Sebaliknya, berkonsentrasilah pada pengembangan kualitas-kualitas itu di dalam diri Anda yang akan menjadikan Anda seorang pemenang.

 

REFERENSI

Schwartz, David J. 2007. Berpikir dan Berjiwa Besar. Terjemahan dari The Magic of Thinking Big, oleh Budiayanto. Batam: Penerbit Binarupa Aksara.

Please Leave a Reply / Comment