Press "Enter" to skip to content

Wajah Pucat, Badan Lemas..? Mungkin Itu Gejala Anemia

Safwan Sy 0

Pengertian Anemia

Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb (Hemoglobin) dan/atau kadar eritrosit lebih rendah dari nilai normal. Dikatakan sebagai anemia jika Hb < 14 g/dl dan Ht < 41% pada pria atau Hb < 12 g/dl dan Ht < 37% pada wanita (Mansjoer. dkk, 2004).

Menurut Wijono (2016), anemia adalah kondisi yang menggambarkan kadar hemoglobin atau jumlah eritrosit dalam darah tidak normal atau rendah.

Sedangkan dalam MIMS (2014), anemia merupakan kelainan darah yang paling sering terjadi dimana kadar hemoglobin di dalam darah mengalami penurunan hingga di bawah kisaran normal menurut usia dan jenis kelamin. Pada anemia, jumlah eritrosit (sel darah merah) juga mengalami penurunan.

Tanda dan Gejala Anemia

Menurut Wijono (2016) dan MIMS (2014), orang yang terkena penyakit anemia memiliki tanda dan  gejala umum sebagai berikut:

  1. Lemas, letih, mual, pusing dan/atau bahkan pingsang.
  2. Kulit pucat terutama pada bibir, gusi, bagian dalam kelopak mata (konjungtiva), dasar kuku dan telapak tangan.
  3. Sariawan mulut atau lidah, bilur-bilur atau pendarahan tidak biasa.
  4. Denyut jantung meningkat (takikardi), nafas memendek.
  5. Mati rasa atau kesemutan di daerah tangan dan kaki.
  6. Merasa kedinginan.
  7. Kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan.
  8. Penurunan daya ingat dan kemampuan melakukan aktifitas fisik.
  9. Gangguan keseimbangan tubuh serta gangguan gaya berjalan.
Baca juga :   Jaringan Parut Mengganggu Penampilanmu ?

Klasifikasi dan Penyebab Anemia

  1. Anemia Defisiensi Zat Besi

  • Saluran cerna (akibat dari tukak peptik, kanker lambung, kanker kolon, divertikulosis, hemoroid dan infeksi cacing tambang). Saluran genital wanita (menorrhagia atau metrorhagia), saluran kemih (hematuri), saluran nafas (hemoptoe).
  • Faktor gizi: akibat kurangnya jumlah besi zat besi total dalam makanan atau kualitas zat besi (bioavaibilitas) yang tidak baik (makanan banyak serat, rendah vitamin C dan rendah daging).
  • Kebutuhan zat besi meningkat: seperti pada prematuritas, anak dalam masa pertumbuhan, kehamilan dan ibu menyusui.
  • Gangguan absorpsi zat besi: seperti gastrektomi, tropical sprue atau kolitis kronik (Wijono, 2016).
  1. Anemia Penyakit Kronik

  • Banyak dihubungkan dengan berbagai penyakit infeksi: seperti infeksi ginjal dan paru (bronkiektasis, abses, empiema, dll).
  • Inflamasi kronik seperti artritis reumatoid.
  • Neoplasma: seperti limfoma malignum dan nekrosis jaringan (Mansjoer. dkk, 2004).
  1. Anemia Defisiensi Vitamin B12 (Pernisiosa)

  • Terjadi akibat tubuh kekurangan zat (faktor intrinsik) yang dibutuhkan untuk menyerap dan mengolah vitamin B12.
  • Anemia jenis ini bersifat herediter (bawaan) atau didapat (karena gatrektomi) dan biasanya terjadi pada pasien lanjut usia (MIMS, 2014).
  1. Anemia Defisiensi Asam Folat

  • Umumnya berhubungan dengan malnutrisi, sedangkan karena penurunan absorpsi jarang ditemukan karena absorpsi terjadi di seluruh sluran cerna.
  • Juga berhubungan dengan sirosis hepatis, karena terdapat penurunan cadangan asam folat (Mansjoer. dkk, 2004).
  1. Anemia Karena Perdarahan

  • Perdarahan akut: mungkin timbul renjatan bila pengeluaran darah cukup banyak, sedangkan penurunan kadar Hb baru terjadi beberapa hari kemudian.
  • Perdarahan kronik: penyebab yang sering antara lain ulkus peptikum, menometrorhagi, perdarahan saluran cerna karena pemakaian analgesik, epistaksis dan infeksi cacing tambang (Mansjoer. dkk, 2004).
  1. Anemia Hemolitik

  • Terjadi akibat penghancuran (hemolisis) eritrosit yang berlebihan. Hal ini dibedakan menjadi 2 faktor, yaitu faktor intrasel dan ekstrasel.
  • Faktor intrasel: seperti talassemia, hemoglobinopatia.
  • Faktor ekstrasel: seperti intoksidasi, infeksi (malaria), imunologis (inkompabilitas golongan darah, reaksi hemolitik pada tansfusi darah) (Wiyono, 2016).
  • Anemia hemolitik autoimun merupakan kelainan darah yang didapat, dimana autoantibodi IgG yang dibentuk terikat pada membran sel darah merah (Mansjoer. dkk, 2004).
  1. Anemia Aplastik

  • Terjadi karena ketidaksanggupan sumsum tulang untuk membentuk sel-sel darah.
  • Penyebabnya bisa kongenital (jarang), idiopatik (kemungkinan autoimun), LES, kemoterapi, radioterapi, toksin (seperti benzen, toluen, insektisida), obat-obatan (seperti kloramfenikol, sulfonamid, pirazolon, hidantoin, kinakrin, sulfonilurea), pascahepatitis, kehamilan dan hemoglobinuria paroksimal nokturnal (Mansjoer. dkk, 2004).
  1. Anemia Sel Sabit

  • Disebabkan karena kelainan bentuk hemoglobin, sehingga menyebabkan bentuk sel-sel darah merah menjadi seperti bulan sabit. Sel-sel abnormal ini mati lebih cepat dibandingkan sel darah merah nomal.
  • Kelainan ini terutama dialami oleh ras Negroid dan Kaukasoid (MIMS, 2014).
Baca juga :   Jaringan Parut Mengganggu Penampilanmu ?

Dampak Negatif Anemia

Berdasarkan buku pedoman penanggulangan anemia gizi dan remaja putri dan Wanita Usia Subur (WUS) dalam Wiyono (2016), menyebutkan dampak anemia defisiensi zat besi adalah sebagai berikut:

  1. Anak-anak, defisiensi zat besi pada anak-anak dapat menurunkan kemampuan dan kosentrasi belajar, menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan otak, serta dapat meningkatkan resiko penyakit infeksi karena daya tahan tubuh yang menurun.
  2. Wanita, anemia akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah sakit, menurunkan produktifitas kerja dan menurunkan kebugaran.
  3. Remaja putri, pada remaja putri anemia umumya dapat menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar, mengganggu pertumbuhan sehingga tinggi badan tidak mencapai optimal serta mengakibatkan wajah terlihat pucat.
  4. Ibu hamil, dampak anemia pada ibu hamil sangat mengkhawatirkan karena dapat menimbulkan perddarahan sebelum atau saat persalinan, meningkatkan resiko kelahiran Bayi dengan Berat Lahir Rendah atau BBLR (< 2,5 Kg), pada anemia berat dapat menyebabkan kematian ibu dan atau bayinya.

Anjuran untuk Penderita Anemia

Ada beberapa anjuran yang terdapat dalam MIMS (2014) yang dapat dilakukan oleh penderita anemia, yaitu:

  1. Menjalani diet dengan gizi seimbang, mencakup makanan yang kaya akan zat besi, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, daging tanpa lemak, kacang-kacangan, roti gandum berserat kasar dan sayuran berwarna hijau daun.
  2. Suplemen zat besi hanya boleh dikonsumsi atas anjuran dokter. Karena asupan zat besi yang terlalu berlebihan bisa membahayakan. Kelebihan zat besi berhubungan dengan meningkatnya resiko serosis, kardiomiopati, diabetes dan kanker jenis tertentu.
  3. Pada ibu hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi suplemen asam folat untuk mencegah terjadi anemia defisiensi asam folat.
  4. Makan makanan yang tinggi asam folat dan vitamin B12, seperti ikan, susu, daging, kacang-kacangan, sayur berwarna hijau tua, jeruk dan biji-bijian.
  5. Hindari mengkonsumsi minuman beralkohol.
  6. Hindari pemaparan berlebihan terhadap minyak, insektisida, zat kimia dan zat toksik lainnya karena juga dapat menyebabkan anemia.
  7. Konsultasi kembali dengan dokter jika gejala anemia menetap dan juga untuk mengetahui faktor penyebab anemia serta mendapat terapi yang sesuai. Pemeriksaan diagnostik biasanya diperlukan untuk mengetahui penyebab anemia.
Baca juga :   VERTIGO ; Ketika Bumi Terasa Berputar Sangat Cepat

 

Referensi

  • Mansjoer, Arif. dkk. 2004. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi III. Cet. 4. Jakarta: Penerbitan Media Aesculapius FKUI.
  • MIMS. 2014. MIMS Petunjuk Konsultasi Indonesia, Edisi 14, 2014/2015. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer.
  • Wiyono, Sugeng. 2016. Buku Ajar Epidemiologi Gizi Konsep dan Aplikasi. Jakarta: CV. Sagung Seto.

 

Please Leave a Reply / Comment